al-Qadhi Abdul Aziz bin Ismail al-Wasyah

Oleh : Abu Abdillah as-Surianji

(Majalah Riwayah Edisi 12/Thn 2/Bln 6/1436 hal 19-21)

al-wasyah

Inilah profil singkat asy-Syaikh al-Mu’ammar al-Faqih al-Qadhi Abdul Aziz bin Ismail bin Muhammad al-Wasyah al-Ibi, berasal dari kota Ib, di Yaman bagian tengah. Mungkin beliau tidak semasyhur ulama-ulama Yaman lain yang banyak muridnya di Indonesia, tapi sudah pasti beliau lebih kibar dalam usia dan pengalamannya.

Syaikh lahir pada akhir ramadhan sekitar tahun 1347 H atau kurang lebih 1928 M, Ada yang menukil kalau Syaikh lahir tahun 1945 M, ini keliru. Syaikhuna al-Mu’ammar al-Qadhi Ali bin Qasim alu Tharisy al-Fifiy –seorang ulama, murid Syaikh al-Hafizh al-Hakimi di Mekkah- ditanya oleh seorang muridnya tentang Syaikh Abdul Aziz al-Wasyah: “apakah anda mengenalnya?”. Beliau berkata, “Aku mengenalnya, beliau lebih tua dariku dua tahun”, seperti kita ketahui, Syaikh al-Fify lahir tahun 1348 H. Maka jika dihitung-hitung usia Syaikh al-Wasyah sekarang ini sekitar 89 tahun, jauh lebih senior daripada Syaikh Rabi al-Madkhali yang legendaris itu. Sebuah usia yang bisa membuat beliau termasuk ulama “kibar” tentu jika termasuk dalam syarat-syarat “mereka”. Padahal Syaikh termasuk yang hampir 10 tahun belajar kepada Syaikh al-Mufti Abdul Aziz bin Baz dan bahkan menjadi qari dalam beberapa durusnya, atas permintaan Syaikh Bin Baz sendiri, terutama dalam durus Bulughul Marom di Mahad al-Ilmi Riyadh.

Sebelumnya Syaikh juga sempat belajar kepada Syaikh Hafizh bin Ahmad al-Hakami (w. 1377 H), seorang pengajar di Madrasah dari Syaikh al-Qar’awi, dan mengkhatamkan beberapa bacaan kitab kepadanya yaitu kitab-kitab penting yang sampai sekarang masih dibaca dan diajarkan, seperti kitab Sullamul Wushul ili ‘Ilmil Wushul, A’lam as-Sunnah an-Nabawiyah, al-Zawahirah al-Faridhah, dan al-Lu’lu al-Maknun. Jadi, dari segi sanad bagi kitab-kitab di atas, jika kita telah membaca kepada Syaikh al-Wasyah, maka shighahnya akan menjadi: “Akhbarana Syaikh al-Wasyah akhbarona Syaikh al-Hakami”, ini tentu ‘aliy sekali.

Beliau juga belajar kepada asySyaikh al-Alim alFaqih Nashir Khalufah Thayyasy Mubaraki (w. 1393 H) yang juga merupakan murid Syaikh Abdullah al-Qar’awi, dan guru bagi Syaikh Robi al-Madhkali, di antaranya sama’i Risalah asy-Syafi’i dengan bacaan Syaikh Umar al-Yafi’i.

Bahkan Syaikh juga bertemu langsung dengan guru Syaikh al-Hakami dan al-Mubaraki yaitu Syaikh al-Allamah Abdullah al-Qar’awi (w. 1389 H) yang kemudian mengijazahinya dengan ijazah ammah untuk semua periwayatannya. Syaikh al-Qar’awi ini meriwayatkan dari Syaikh al-Muhadits Ahmadullah ad-Dihlawi (satu guru dengan guru kami yang kami sebutkan biografi singkatnya pada edisi yang lalu, Syaikh al-Mu’ammar Zhahiruddin al-Mubarakfuri).

Syaikh al-Wasyah sangat tawadhu dengan ijazahnya dari Syaikh al-Qar’awi ini, ketika kami selesai membaca kitab Sullamul Wushul kami meminta beliau mengijazahi ammah, beliau mengijazahi kami ammah dengan syarat bertakwa kepada Allah, Allahul musta’an.

Syaikh kami al-Wasyah, belajar pula kepada al-Allamah Abdurrahman al-Mu’alimi –adz-Dzahabi zaman ini- dalam ilmu Nahwu, juga kepada al-Mufassir al-Allamah Muhammad al-Amin asy-Syinqithi selama kurang lebih empat tahun dan kepada masyaikh lainnya. Salah satu muridnya bahkan mengatakan kalau bacaan syaikh secara kamil kepada banyak ahli ilmu tercatat tidak kurang dari 80 kitab. Yang menarik, pada mulanya keberangkatannya ke Saudi bukan untuk mencari ilmu tapi semata-mata untuk mencari rizki. Namun Allah memberinya hidayah dan mempertemukannya dengan sejumlah ulama yang mendorongnya untuk bersemangat mencari ilmu.

Beliau sekarang tinggal di Ib, Yaman bagian tengah, orang-orang Ib mengenalnya sebagai syaikh yang sangat keras berpegang dengan sunnah, dan suka beramar ma’ruf nahi mungkar. Syaikh masih mengajar sampai sekarang di mesjid-mesjid di kota Ib, namun sudah menggunakan kursi roda karena usianya.

Begini yang kami ketahui tentang Syaikhuna Abdul Aziz al-Wasyah, wallahu ’alam.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *