Mencari Bait al-Hadits

Oleh : Abu Abdillah as-Surianji

kattaniyyan

Diantara Ahli Riwayah terdapat istilah “Bait al-Hadits”, kadang ditambah, “Bait al-Hadits wal-Riwayah”. Istilah ini diperuntukkan bagi sebuah keluarga yang banyak anggota dalam silsilah keluarganya sibuk dengan hadits, menerima dan meriwayatkan hadits. Misalnya tentang Abu Qasim Ubaidullah bin Abi al-Faraj Ali bin Hazm Muhammad al-Baghdadi al-Hanbali, berkata Ibn al-Anjab, “Beliau dari BAIT AL-HADITS, telah meriwayatkan hadits: dia, bapaknya, kakeknya dan kakek bapaknya”. (Masyikhat Na’alil Baghdadi Muhammad Ibn al-Anjab (575 – 659 H) [1], takhrij al-Mundziri, hal. 71, lihat semisal juga 81, 87, 89,91, 108, 115, 119, 129 dst, dan Masyikhat Ibn Jama’ah hal. 329).

Keluarga semacam ini memiliki lingkungan yang akrab dengan hadits. Maka tak heran sering kita temukan sanad-sanad ‘aliy disalah satu anggota keluarganya. Biasanya mereka mendengarkan hadits sejak kecil melalui bimbingan salah satu anggota keluarganya, misalkan Bapaknya, bahkan kadang kakeknya. Kadang juga anggota keluarga yang lebih senior memintakan ijazah untuk anak-anak kecil mereka kepada musnid-musnid mu’ammar yang termasuk guru mereka. Jika anak-anak tersebut berumur panjang kelak, maka tentu saja ia akan memiliki sanad yang ‘aliy yang tidak didapatkan orang semisalnya di zamannya, karena istid’a ini. Bahkan yang lebih dari itu, sejak kecil kadang mereka telah diizinkan membaca kepada anggota keluarga yang lebih senior, yang kadang tidak akan diizinkan bagi orang lain. Begitu pula intensnya mereka bertemu, mengakibatkan banyaknya sama’i mereka, apa yang susah didapatkan para murid dari luar keluarganya. Atau bahkan mereka telah membacakan kepada ayah-ayah mereka sebuah kitab yang tidak diriwayatkan kepada yang lainnya, seperti kasusnya Musnad Ahmad di keluarga Imam Ahmad bin Hanbal. Faktor lainnya, Para guru yang suka sulit memberi ijazah pun biasanya segan untuk menolak permintaan musnid-musnid terpandang untuk mengijazahi salah satu anggota keluarganya.

Oleh sebab itu kami suka mencari anggota bait al-Hadits. Selain karena banyaknya sanad-sanad ‘aliy yang beredar diantara mereka, juga untuk keindahan riwayah. Misalkan ada yang disebut musalsal bi aba, maksudnya musalsal riwayat anak dari bapak dari bapak dan seterusnya.

Bait al-Hadits Zaman Ini

Sependek pengamatan kami, ada beberapa keluarga dizaman sekarang yang layak disebut baitul riwayah. Misalnya :

  1. Keluarga al-Kattani, tak terhitung didalam keluarga ini orang-orang yang konsentrasi dalam ilmu riwayah. Penulis sendiri meriwayatkan dari beberapa anggota keluarga al-Kattani, seperti : Syaikh Prof. Dr. Abdul Qadir bin Makki al-Kattani, Syaikh Prof. Dr. Yusuf bin Ibrahim al-Kattani, Syaikh al-Mu’ammar Abdurrahman bin Abdul Hay al-Kattani, Syaikh al-Mu’ammar Dr. Idris bin Muhammad Ja’far al-Kattani, Syaikh Hasan dan Hamzah Ibn Ali al-Munthashir al-Kattani, dan Syaikhah Dr. Nuril Hadi al-Kattaniyyah.
  2. Keluarga al-Ahdal, semisal keluarga Kattani. Misalnya Syaikhuna Sulaiman al-Ahdal, dia meriwayatkan dari bapaknya dari bapaknya dari bapaknya dan seterusnya beberapa thabaqah, ini musalsal keluarga yang sangat indah.
  3. Keluarga Syaikhuna Muhammad bin Abdurrahman alu Syaikh, sudah ma’ruf bahwa anak turun Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab at-Tamimi termasuk ahli-ahli riwayah dizamannya masing-masing, bertahan sampai thabaqah yang sangat tinggi.
  4. Keluarga Syaikhuna Abdurrahman bin Ubaidullah bin Abdussalam al-Mubarakfuri, dimana beliau, saudara, ayah dan kakeknya ulama ahli hadits yang meriwayatkan hadits.
  5. Demikian pula keluarga Syaikhuna Abdul Wakil, ayahnya, saudaranya dan kakeknya adalah perowi kitab-kitab dengan sama’i.
  6. Dan banyak lagi yang lainnya,

Catatan Kaki :

[1]. Termasuk murid Ibn Jauzi

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *