Mencari Ijazah Dan Meluruskan Wala’ Wal Bara

Tulisan berikut ini adalah terjemahan Ustadz Abu Maryam Askary Shibghatulhaq As-Samarany Al-Indunisy. Beliau pernah belajar Di Mahad Aly Lid Dirasat Islamiyyah, Haj Yusuf, di Sudan. Beliau meriwayatkan dengan ijazah dari Syaikh Musa’ad bin Basyir As-Sudani, Syaikh Dhahiruddin Al-Mubarakfuri, Syaikh Ghulamullah Rahmaty dan lain-lain.

Diambil dari Risalah Syaikh al-Musnid Badr Thami al-Uthaibi hafizahullahu yang berjudul : طلب الإجازة وتحقيق الولاء والبراء

Mencari Ijazah Dan Meluruskan Wala’ Wal Bara

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad shallallahu’alaihi wasallam, juga kepada keluarga beliau dan para sahabatnya. Amma ba’du,

Saya telah membaca risalah yang ditulis oleh As Syaikh Al Muhaddits Riyadh bin Abdul Muhsin Saidsemoga Allah membuat kehidupannya bahagia dan mengampuni dosanya serta dosa kedua orang tuanya – di forum multaqa ahlul hadits yang berjudul “Ijazah riwayat dan lemahnya tauhid dan sunnah”. Dalam risalah ini, penulis memberikan teguran keras bagi golongan yang menganggap remeh hukum meriwayatkan dari para ahlu bid’ah. Penulis juga mengkritisi sekelompok orang di masa kini yang meremehkan hukum tersebut, yang bahkan pernah meriwayatkan dari orang – orang zindiq seperti Quburiyyun, Jahmiyyah, dan Rafidhah.

Tidak diragukan lagi, kritikan yang ditulis oleh penulis sangatlah penting, khususnya di zaman ini. Zaman dimana banyak para pemburu ijazah memperoleh kesulitan dan kepayahan, sehingga mereka meriwayatkan dari semua golongan tanpa memperdulikan madzhab dan manhajnya !

Meriwayatkan dari ahlu bid’ah adalah persoalan ‘ilal (cacat) yang sangat masyhur di kalangan ulama ahlul hadits dahulu maupun sekarang, dan mereka berselisih pendapat dalam hal ini. Sebagian ulama dan muhaqqiq pernah membahas hal ini, diantaranya adalah guru dari syaikh – syaikh kami Al Muhaddits Al Allamah Abdurrahman bin Yahya Al Muallimirahimahullah – dalam bukunya “At Tankil bima fie ta’nibil kautsari minal abathil”.

Pendapat yang rajih dari para ulama madzhab, meriwayatkan dari ahlu bid’ah hukumnya sah dengan dua syarat :

  1. Bid’ah yang dilakukannya bukan bid’ah yang menjadikannya murtad (bid’ah mukaffirah)
  2. Yang bersangkutan tidak gemar berdusta dalam berbicara dan meriwayatkan

Jika kedua syarat ini dipenuhi maka riwayat dari mereka diterima, baik mereka menyerukan bid’ahnya atau tidak. Namun hal ini sama sekali tidak menafikan hukum asal yang dianut para salaf dalam mengucilkan ahlu bid’ah, tidak mencontoh amal mereka, dan tidak duduk bersama mereka. Bahkan sebagian salaf tidak meriwayatkan dari ahlu bid’ah meskipun bid’ah yang mereka kerjakan bukan bid’ah mukaffirah dan meskipun mereka bukan golongan yang gemar berbohong dalam meriwayatkan. Ini dilakukan sebagai bentuk taqarrub kepada Allah, menjauhi ahlu bid’ah, dan celaan bagi yang menyelisihi manhaj ahlus sunnah.

Saya telah mengumpulkan atsar – atsar dari para salaf dalam buku saya “al lam’u fi mawaqif ahlus sunnah min ahli bid’ah” tentang sikap mereka dalam :

  • Mengucilkan ahlu bid’ah
  • Kewaspadaan para salaf dari ahlu bid’ah
  • Tidak menyimak hadits atau meriwayatkan dari ahlu bid’ah
  • Tidak shalat di belakang ahlu bid’ah, tidak menyolatkan mereka dan tidak mengiringi jenazah mereka
  • Tidak memuji ahlu bid’ah

Semua hal yang saya sebutkan diatas adalah sikap tegas para salafus shalih yang memiliki beragam tujuan yang berbeda – beda dikarenakan perbedaan tujuan pengucilan dalam islam. Semuanya telah saya bahas dalam kitab yang saya sebutkan.

Kesimpulannya, hukum asal bagi ahlu bid’ah adalah wajib menjauhi mereka. Namun terkadang para salaf meriwayatkan dari sebagian ahlu bid’ah demi sebuah maslahat, seperti keunggulan mereka dalam hafalan dan riwayat, atau karena tingginya derajat sanad mereka.

Peristiwa ini terjadi pada zaman pengumpulan ilmu dan riwayat, dan masih berlaku pada zaman sekarang. Yaitu bolehnya periwayatan dari ahlu bid’ah ketika dibutuhkan, demi mendapatkan ilmu atau keutamaan sanad shahih yang ‘aliy. Namun hal ini tidak berarti menafikan persoalan akidah atau menjadikan kita berlebihan dalam memuji ahlu bid’ah. Bahkan diantara para salaf ada yang meriwayatkan dari seseorang sekaligus mengkritisi perkara agamanya secara bersamaan.

Al Uqaily dalam kitabnya “ad dhuafa’ “ meriwayatkan dari Isa bin Yunus, ia berkata : “berkata kepada kami Tsaur dan dia adalah Qadariyyah”

Dalam Tahdzibud Tahdib, Qutaibah berkata : “berkata kepada kami Jarir Al Hafidz Al Muqaddam, namun aku pernah mendengarnya mencela Muawiyah secara terang terangan”

Dalam buku “Su’alaat al Ajury” karangan Abu Dawud, ia berkata : “aku mendengar ketika Abu Dawud ditanya mengenai ‘Ibad bin Manshur, ia berkata : “Ahmad bin Abi Suraij berkata : “berkata kepada kami Muadz bin Muadz : “berkata kepada kami Ubad bin Manshur dan dia penganut qadariyah”

Dalam Tahdzibut Tahdzib, Al Hakim berkata : “jika Ibnu Huzaimah meriwayatkan dari Ubad bin Yaqub Ar Rawajiny, ia berkata : “berkata kepada kami Ubad bin Yaqub, yang benar riwayatnya dan yang diragukan manhajnya”

Dan perkataan yang serupa jumlahnya sangat banyak. Dalam menjelaskan kondisi ahlu bid’ah memang perlu adil dan inshaf.

Keringanan dalam meriwayatkan dari ahlu bid’ah berlaku bagi orang tertentu, dari orang tertentu. Bukan bagi sembarang orang, dari sembarang orang.

Keringanan ini berlaku khusus bagi perawi ahlus sunnah yang menghabiskan hidupnya untuk ilmu, memahami ilmu dirayah dan telah teruji kompeten dalam bidang ini. Dan Ia meriwayatkan dari ahlu bid’ah yang memenuhi syarat, sehingga riwayatnya dapat diterima.

Adapun riwayat sembarang ahlus sunnah dari sembarang ahlu bid’ah, maka hukumnya tidak boleh. Karena hal ini termasuk kategori bermain – main dengan agama dan mengambil resiko bergaul dengan orang yang sesat dan mujrim. Apalagi jika bid’ah yang mereka lakukan menjerumuskan kepada kemusyrikan dan paganisme, seperti sufi ekstrim penganut madzhab ibnu araby dan golongan zindiq sejenis.Kita tidak diperbolehkan meriwayatkan dari mereka, mencantumkan nama mereka dalam silsilah sanad (tak peduli apapun derajat mereka), serta memuji mereka dengan segala bentuk pujian.

Syaikhul islam Muhammad bin Abdul Wahhab telah mengingkari riwayat sebagian orang yang hidup pada zamannya dari Abdul Ghani An Nablusi As Sufi. Bahkan orang – orang itu memuji Abdul Ghani sebagai orang yang arif ! Syaikhul islam berkata dalam kitab “Ad Durar As Saniyyah fil kutub an najdiyyah” (22/13) : “dan kalian tahu bahwa saya mengomentari tulisan ibnu Azaz. Dalam tulisannya ada beberapa ijazah baginya dari syekh – syekhnya dan syekh dari syekhnya. Dan dalam ijazah tersebut ada seseorang yang bernama Abdul Ghani yang di puji oleh syaikh – syaikhnya dan bahkan dijuluki dengan “ al ‘arifu billah”. Padahal Abdul Ghani adalah penganut manhaj ibnu araby, yang menurut para ulama lebih kufur daripada Fir’aun. Bahkan Ibnul Muqri’ As Syafi’i berkata : “barangsiapa yang meragukan kafirnya pengikut ibnu araby maka ia kafir”. Maka jika Abdul Ghani adalah pengikut manhaj Ibnu Araby dan penyebarnya, sedangkan syaikh – syaikh mereka memujinya dengan julukan “al ‘arif billah”, maka bagaimana harusnya sikap kita ? Selesai.

Saya katakan : Hendaknya kalian memeriksa beragam silsilah sanad yang berisi para penganut aliran sesat dan sufi ekstrem yang menyeru kepada paganisme. Dan jangan lupa sebutkan perbedaan mereka. Semoga Allah membantumu.

Maka hendaknya kita tidak bergaul dengan orang – orang seperti ini, tidak memuji mereka, dan tidak meriwayatkan dari mereka, karena ini adalah sikap ahlus sunnah wal jamaah. Ahlus sunnah menjadikan pengucilan ahlu bid’ah dan keengganan belajar dari mereka sebagai pokok akidah mereka dan menuliskannya dalam kitab kitab akidah.

Jika ada orang yang berkata : “Apa tanggapanmu mengenai riwayat sebagian ulama dari sebagian ahlu bid’ah, baik dari golongan terdahulu ataupun masa kini ?”

Saya menjawab : “riwayat ini adalah riwayat orang tertentu dari orang tertentu, sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya. Mereka tidak meriwayatkan dari para pentolan aliran sesat dan melenceng, karena mereka adalah golongan yang paham ilmu, manhaj, sunnah dan martabat. Dan mereka tidaklah meriwayatkan dari seseorang kecuali karena keunggulan ilmu, sanad dan semisalnya pada orang tersebut”.

Al Hafidz Al Juzjany memiliki sebuah nasehat berharga bagi orang yang meriwayatkan dari ahlu bid’ah . Nasehat ini layak untuk diperhatikan dan diambil faidahnya. Beliau – rahumahullah – berkata dalam akhir kitabnya “ahwalur rijal” (hal. 209 – 215, tahqiq Syaikhuna Subhi Samara’i) :

“Wahai para hamba Allah, apakah kalian tidak memiliki kesempatan untuk meriwayatkan hadits dari para muhaddits yang sungguh – sungguh dan amanah, yang meriwayatkan haditsnya dari para orang yang tsiqah dan pakarnya dari seluruh negeri sehingga bisa kalian pegang ucapannya ? Sesungguhnya dalam hadits – hadits mereka tercerminkan kecerdasan mereka”

Akan tetapi, kenyataannya tidak demikian ! banyak dari kalian melenceng, pencarian dan pengumpulan hadits disesuaikan nafsu dan keinginan kalian. Dan jika kalian di kritik dalam hal ini, maka kalian akan berkata : “Aku menulis hadits ini demi pengetahuan”

Subhanallah…kalian menulis hadits dari golongan yang terpercaya demi pengetahuan dan juga menulis hadits dari golongan yang tidak dipercaya demi pengetahuan ! Maka kapan kalian bisa meninggalkan hal ini ?! Dan suatu saat akan muncul golongan yang jika dinasehati mengenai hal ini, mereka akan menjawab : “Fulan telah meriwayatkan darinya” dan atas dasar ini mereka menjadikannya hujjah.

Kami juga pernah bertanya kepada sebagian orang : “Mengapa kalian meriwayatkan dari si fulan?”

Mereka menjawab : “Bukankah si fulan telah meriwayatkan dari fulan ?”

Maka pengambilan hadits dari golongan yang menyimpang pun dilakukan dengan cara – cara yang keliru setelah ada hujjah yang terang benderang.

Dan hadits ada dua macam :

  1. Hadits tentang ibadah kepada Allah

Dengan hadits ini seseorang menjalankan perintah agamanya dan tugasnya sebagai hamba. Maka pada hari kiamat nanti jika ia ditanya dari mana ia mendapatkan ilmunya, tak mungkin ia menjawab : “dari golongan orang yang agamanya tidak dapat dipercaya dan dari golongan yang melenceng dari kebenaran” Karena Allah Ta’ala tak mungkin mau menerima jawaban ini. Sebab Allah berfirman : “Maka sesungguhnya Kami akan menanyai umat-umat yang telah diutus rasul-rasul kepada mereka dan sesungguhnya Kami akan menanyai (pula) rasul-rasul (Kami)” (Al A’raf : 6)

Berkata kepadaku Ali bin Hasan, ia berkata : Aku mendengar Abdullah ibnu Mubarak berkata : “Jika kalian diuji untuk memutuskan sebuah perkara, maka kembalikanlah kepada atsar”

Ali bin Hasan berkata : “lalu aku menyebutkan perkataan Abdullah ini kepada Abu Hamzah Muhammad bin Maymun As Sukry – termasuk ahlu riwayat dalam kategori “la ba’sa bih” -, Ia berkata : “Apakah kamu tahu apa itu atsar ?” Aku memberitahukanmu sebuah hadits, kemudian kamu mengamalkannya. Dan pada hari kiamat, kamu akan ditanya : “Siapa yang menyuruhmu melakukan ini” Maka kamu menjawab : “Abu Hamzah” Maka dipanggillah aku. Lalu yang bertanya tadi berkata : “Orang ini mengaku bahwa kamu menyuruhnya melakukan ini dan ini”. Dan jika aku menjawab : “benar, aku yang menyuruhnya” Maka kamu bebas. Lalu aku akan ditanya “Bagaimana kamu bisa berkata semacam ini ?” Maka aku menjawab : “Al A’masy berkata kepadaku” Lalu Al A’masy ditanya. Dan jika ia menjawab : “benar” maka aku pun bebas. Lalu Al A’masy ditanya : “Darimana sumber perkataanmu ini?” A’masy menjawab : “Ibrahim berkata kepadaku” Lalu Ibrahim ditanya. Jika ia menjawab : “benar” maka A’masy bebas dan Ibrahim di datangkan. Ia ditanya : “darimana sumber perkataanmu?” Ibrahim berkata : “Alqamah berkata padaku” Lalu Alqamah ditanya. Apabila ia menjawab : “benar” maka Ibrahim bebas. Lalu Alqamah di tanya : “dari mana sumber perkataanmu?” Alqamah menjawab : “Dari Abdullah ibnu Mas’ud”. Jika Ibnu Mas’ud berkata “benar” maka Alqamah bebas. Lalu Ibnu Mas’ud ditanya : “dari mana sumber perkataanmu” Ibnu Mas’ud menjawab : “Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda kepadaku” Lalu Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam ditanya. Jika beliau menjawab “benar” maka Ibnu Mas’ud bebas. Lalu Nabi shallallahu’alaihi wasallam ditanya pertanyaan yang serupa, dan beliau menjawab : “Jibril lah yang berkata kepadaku” Demikianlah hingga akhirnya sampai kepada Allah Ta’ala .

Inilah atsar. Ini adalah perkara yang serius, bukan main – main. Hal ini hanya bisa mengantarkan seseorang menuju surga atau neraka. Tidak ada pilihan lain diantara keduanya.

Maka hendaknya dipahami, bahwa masing – masing kalian bertanggung jawab terhadap urusan agamanya, termasuk darimana ia memutuskan hal yang halal dan haram. Sebagaimana Asyhal bin Hatim berkata padaku, dari Ibnu Aun, dari Muhammad, ia berkata : “Sesungguhnya ilmu ini adalah dien, maka hendaknya seseorang teliti dari siapa ia mengambil diennya”

  1. Hadits yang masih diperdebatkan

Jika kalian menyebutkan hadits ini di hadapan para ulama, niscaya mereka tidak akan menerimanya sebagai hujjah. Mereka akan memasang muka masam sebagai tanda bahwa mereka mengingkari perbuatanmu. Mencari hadits semacam ini akan menyibukkan kalian dari menghafal hadits – hadits para imam.

Jikalau seandainya kamu meninggalkan hadits semacam ini dan mulai memperhatikan hadits para imam, niscaya beban kalian akan menjadi lebih ringan dan kalian lebih mudah memahaminya dan menghafalnya.

Saya tak dapat membayangkan bila suatu hari ketika kita berada di hadapan Allah Ta’ala dan ditanya soal hujjah perkara – perkara dien yang kita kerjakan, kita menjawab : “dalam sanadnya terdapat seseorang yang dicurigai menyimpang dari kebenaran”. Jalur sanad yang ideal di mata para ulama adalah yang bebas dari sosok majhul. Sanad yang berharga bebas dari orang yang berkilah dalam agama dan bobrok dalam mengikuti sunnah, meskipun jumlahnya sangat sedikit. Allah berfirman : “Katakanlah : “Yang jelek tidaklah sama dengan yang baik meskipun kejelekan yang jumlahnya banyak membuatmu terpukau” (Al Maidah : 100)

Kalian tidak perlu mendeteksi golongan yang melenceng dari cara yang benar atau bahkan memvonis si fulan dan fulan. Karena jika kalian menaati aturan ini, niscaya kalian akan dapat melindungi tujuan utamanya yaitu keselamatan di dunia dan akhirat.

Jangan sampai cara – cara licik orang yang menyelisihi aturan ini menipumu dan membuatmu takjub dengan kebatilan – kebatilan yang tidak jelas sumbernya dan tidak memiliki pendukung. Karena aturan ini adalah manhaj.

Ketahuilah, bahwa rasa rakus telah melandamu, fitnah telah meliputimu, kepalsuan telah menguasai kita, kehinaan dan kekerdilan telah menyerang kita. Ketika kita melihat pada diri kita dan pada masyarakat umum atau tertentu dengan jeli, kita khawatir hal – hal tersebut telah terpatri dalam hati kita.

Para ulama – ulama terpercaya telah tercampur dengan orang – orang yang tidak bisa dipercaya dalam perkara – perkara agama. Orang – orang yang tidak bisa di percaya ini telah mengganggu proyek – proyek kita. Mereka memiliki dendam dan permusuhan terhadap islam dan muslimin. Mereka berniat menghancurkan para hamba – hamba Allah dan menyesatkan mereka dari agamaNya. Sehingga setiap orang mengikuti apa yang sesuai dengan hawa nafsunya – kecuali yang dilindungi Allah dan jumlahnya sedikit – dan setan menghiasi perbuatan – perbuatan buruk para manusia yang menjadi wali mereka.

Tidak ada perisai yang dapat melindungi dari kehancuran, dan tidak ada yang dapat memadamkan api fitnah kesesatan. Orang yang memiliki simpati pun tak dapat mengingatkan orang yang dikalahkan oleh kelalaian. Tiada pemberi nasehat yang rela mengorbankan dirinya untuk Allah serta rela membela agama dan sunnah nabinya. Sehingga para ahlu bid’ah bebas mencari cara agar terkenal, mempromosikan manhaj mereka, serta mengharapkan pahala terbaik dari Allah atas apa yang mereka perbuat. Semoga Allah membebaskan umat ini dari fitnah dan penyimpangan mereka.

Ya Allah, buah dari jiwa – jiwa yang sesat telah di petik. Ia telah mencapai puncaknya dan menunjukkan taringnya. Orang – orang awam telah dikuasai dan anak keturunan mereka telah rusak. Sasaran – sasaran mereka telah ditentukan hingga memenuhi ufuk. Duhai Rabbku, Engkau lebih kuasa atas umatmu daripada NabiMu. Engkau lebih baik dalam memimpin mereka dan lebih layak terhadap mereka. Karena Engkaulah yang menjadikan umat ini lebih utama dibandingkan umat – umat yang lain. FirmanMu : “Kalian adalah umat terbaik yang diutus di tengah manusia” (Ali Imran : 110).

Ya Rabb kami, sinarilah hati kami dengan cahayaMu dan keindahan nama – namaMu agar senantiasa mengikuti Al Qur’an dan Sunnah. Dan jangan sisakan hawa nafsu yang tidak engkau ridhai dan hancurkanlah. Jangan biarkan golongan yang mencari perhatian manusia itu mengalahkan golongan yang benar dan jauhkanlah mereka dari hamba – hambaMu. Bersihkanlah negeri kami dari mereka dan jangan biarkan mereka bersatu.

Ya Allah, jadikanlah sinar matahari terang benderang, dan turunkanlah hujan. Bimbinglah kami dengan Al Qur’an dan As Sunnah. Cerai beraikan golongan yang terkena fitnah kesesatan dan buatlah hati mereka takut. Tunjukkanlah kami para penolong agamamu setelah kami menyaksikan golongan yang bersatu karena selain Allah. Cerai beraikan hati mereka karena mereka bersatu diatas kesesatan. Tundukkanlah kepala – kepala mereka karena mereka berusaha menjadi terkenal. Karuniakanlah kepada kami cahaya kebenaran, yang sesuai dengan ajaran NabiMu Muhammad shallallahu’alaihi wasallam. Tunjukkanlah kami kebenaran yang tak mengenal kegelapan dan jelaskanlah, supaya kami dapat mengenalinya diantara kegelapan, supaya hati kami yang mati dapat hidup, dan semua hati dapat berkumpul di dalamnya.

Ya Allah, Engkau lebih mengetahui diri kami, Engkau lebih mengetahui aib – aib kami dan apa yang kami perbuat karena kebodohan dan kecerobohan kami. Tuntunlah kami agar kami dapat merasakan manisnya memujiMu, menyebarkan rahmatMu, mengajarkan umat bahwa Muhammad shallallahu’alaihi wasallam adalah NabiMu. Selamatkanlah kami dari kefakiran dan kesulitan dan kabulkanlah doa – doa kami. Engkau lah yang pertama dan terakhir, yang memberi kepada yang lebih membutuhkan. Engkaulah yang pertama bermurah hati kepada siapa yang meminta. Maka berikanlah kepada kami dan seluruh umat Muhammad shallallahu’alaihi wasallam kedemarwanan, kebaikan, kemurahan hati dan kelembutanMu. Engkau bebas mengerjakan dan memutuskan apa yang Engkau kehendaki. Tiada yang bisa mengkoreksi keputusanMu dan menolak takdirMu.

Ya Allah, jika nafsu ini adalah nafsu dunia, fitnah dunia, atau masih berhubungan dengan itu semua, yang Engkau tidak meridhainya, yang menutup hati – hati kami sehingga kami terputus dariMu, yang menghalangi kami dari keridhaanmu sehingga kami mendapatkan kemurkaan dan kemarahanMu, yang menjadikan doa – doa kami sulit di ijabahi,…maka putuskan semua jaringan yang menghalangi kami dari ketaatan kepadaMu, menghalangi kami dari mengerjakan tugas – tugas dariMu, serta menyelewengkan kami dari jalan yang telah Engkau tulis dalam kitabMu dan sunnah NabiMu.

Ya Allah, jadikanlah pondasi hidup kami adalah syariatMu. Agar segala bentuk kemaksiatan berguguran atas pertolonganmu dan tergantikan dengan ajaranMu. Agar kami mampu mengikuti NabiMu sebagai uswah. Kendalikanlah nafsu yang buruk dari hal – hal yang bersifat mubah, agar tidak menguasai kami dan mengendalikan kami. Tunjukkanlah yang benar itu benar agar kami dapat mengikutinya, dan yang batil itu batil agar kami dapat menjauhinya. Jadikanlah kami mengikuti atsar Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam, meniti ajarannya, serta mengikuti jalan yang lurus dan tidak menoleh ke kanan dan ke kiri. Aamin

Wahai para ikhwan muhadditsin dan para pemerhati warisan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, perhatikanlah dengan seksama, rasakanlah —– ??

Maka berhati – hatilah dalam level ini wahai ikhwan, bid’ah memiliki bau yang dapat dicium oleh orang – orang yang teliti. Orang yang memahami bid’ah pasti akan tersiksa karena baunya. Golongan yang menyatakan bid’ahnya pasti dicurigai, sebab doanya ditolak karena bid’ah yang mereka lakukan. Orang yang paling dikenal diantara mereka paling besar permusuhannya terhadap kalian dan paling tersinggung denganmu. Ketika kalian bertemu dengan mereka, pasanglah muka masam sebagai tanda bahwa mereka berbeda denganmu. Janganlah kalian temui mereka dengan wajah yang ceria, apalagi sampai berpelukan dan berjabat tangan. Ini sebagai bentuk penolakan dari kalian sebagaimana tercantum dalam Al Qur’an :

Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka” (Al Mujadalah : 22)

Lindungilah dua hal dalam diri kalian :

  1. Agamamu
  2. Madzhabmu

Ahlu bid’ah adalah sekutu yang buruk, mereka tidak henti-hentinya menimbulkan kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Jangan sampai rayuan mereka menipumu, karena hati mereka sangat licik. Yang mereka inginkan adalah membuat kalian dan kaum mereka nyaman. Setiap mereka luput dari perhatianmu, mereka akan menyebarkan pahamnya. Cukuplah hal ini mempermalukan kalian dibandingkan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya”. Selesai perkataan beliau –rahimahullah

Perkataan beliau sangat bermanfaat untuk mengingatkan orang – orang yang meremehkan hukum berloyalitas kepada ahlul bid’ah dan meriwayatkan dari mereka. Juga sebagai peringatan agar tidak memuliakan mereka dan memperbanyak jumlah mereka. Maka ikutilah nasehat ini.

Perkataan beliau diucapkan ketika manusia sibuk meriwayatkan dan menukil khabar. Lalu bagaimana halnya dengan zaman ini, dimana tuntutannya adalah silsilah riwayat yang bersambung hanya dengan ijin meriwayatkan lewat ijazah ?

Perkataan beliau menegaskan dan menasehatkan kita agar menjauh dan menghindari ahlu bid’ah. Karena resiko meremehkan ahlu bid’ah dalam ilmu riwayah sangatlah banyak. Diantaranya adalah kesalahan dalam bab Hudud, Asma’ was Shifat, dan Hukum fiqh.

Mereka para Ahlu bid’ah membuat kita bimbang, apakah amalan tertentu bid’ah atau tidak !

Jika amalan tersebut dikatakan bid’ah, mereka menyelisihi kita. Mereka berkata : “Tidak setiap orang yang melakukan bid’ah disebut sebagai Ahlu Bid’ah”

Jika amalan tersebut dikatakan sebagai bid’ah mukaffirah, mereka menyelisihinya dengan berkata : “Tidak setiap orang yang terjatuh ke dalam kekufuran di vonis kafir”

Bahkan mereka tidak mengakui bahwa pertanyaan dan bantahan tadi berasal dari mulut – mulut mereka, agar orang – orang mau meriwayatkan dari Ahlu bid’ah dan orang – orang yang tersesat. Allahul musta’an.

Bahkan diantara mereka ada yang memuji – muji secara berlebihan dan menjual agamanya dalam urusan ijazah. Mereka memakai baju yang rapi, memegang tasbih, lalu mencela ahlu sunnah di majelis – majelis mereka. Semua itu demi secarik kertas yang tertulis di dalamnya “aku mengijazahi fulan”. Allah lah sebaik – baik tempat mengadu.

Jika seseorang berkata : “Kami akan mengumpulkan (riwayat ahlu bid’ah), lalu akan kami teliti”

Tanggapan kami : Ini bukan ajang mengorbankan agama. Kita sedang berbicara manifesto, tipuan dan kebohongan ahlu bid’ah, serta hukum menyiarkannya dan mempromosikannya ke seluruh penjuru negeri. Para manusia di jaman dahulu selalu melihat hasil penelitian, bukan hasil pengumpulan. Dan tidak setiap orang yang mendengar dari seseorang lantas meriwayatkan darinya !

Namun hari ini, kita melihat yang bening dan yang keruh. Barang dagangan para pemburu ijazah digelar, padahal mereka masih dalam tahap mengumpulkan. Mereka bahkan memuji – muji para syeikh mereka yang mubtadi’ dan mengajak orang – orang untuk belajar kepada mereka. Sehingga orang yang bodoh pun akan ikut memuji – muji mereka. Ya Rabbi

Kesimpulannya : Setiap kali orang mencoba meriwayatkan dari ahlu bid’ah dan meremehkan hal ini, hal tersebut akan menimbulkan kerusakan yang parah, kekeliruan, dan menjadi jalan masuk keburukan yang menyebabkan manusia berpaling dari agama Allah. Allahul musta’an.

Penutup

Dalam akhir risalah ini, saya ingin mengatakan bahwa dunia periwayatan hari ini sangat membutuhkan sosok yang adil dan inshaf. Dan sampai hari ini kita masih membutuhkan orang yang kredibel dalam bab ini. Sehingga para perawi terdiri dari orang – orang yang adil dan inshaf, yang terpercaya agama dan riwayatnya. Dua hal inilah yang dibutuhkan dalam ilmu ini.

Jikalau seandainya para ulama mau mengarang sebuah kitab yang menjelaskan kondisi perawi – perawi pada zaman ini, serta meneliti kesempurnaan riwayat dan agamanya, maka hal ini merupakan upaya yang luar biasa dan sangat bermanfaat bagi para ahli hadits. Dan jangan lupa dalam buku tersebut disertakan nasehat agar kita senantiasa adil dan inshaf, senantiasa mencari kebenaran, serta tidak mengambil dari ahlu bid’ah dalam hal yang tidak mereka kuasai. Kesempurnaan agama seorang ahlus sunnah tidak lantas menjadikan riwayatnya yang cacat menjadi berharga. Dan kerusakan agama seorang ahlu bid’ah tidak lantas menjadikan riwayatnya yang shahih tertolak.

Langit dan bumi berdiri diatas keadilan. Sedangkan kedhaliman telah Allah haramkan bagi diriNya dan bagi hambaNya. Allah Ta’ala berfirman :

Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Al Maidah : 8)

Allahul musta’an. Tiada daya dan kekuatan kecuali dari Allah. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala aalihi wa shahbihi ajma’in

Ditulis oleh Al Faqir ila Rabbih

Badr bin Ali bin Thami Al Utaiby

Riyadh, kamis 10 shafar 1430

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *