Kiprah-Kiprah Luar Biasa Dalam Menekuni Ilmu Dan Agama

Oleh : Ust. Abu Asybal Nidhol Masyhud*
 

Dalam bentang sejarah peradaban umat Islam, para ulama terdahulu telah mengerahkan kiprah-kiprah luar biasa sekaligus jasa besar bagi umat ini. Di tangan merekalah—atas izin Allah—lahir cabang-cabang ilmu keilslaman yang tersajikan sedemikian matang dan sistematis sebagaimana bisa dinikmati oleh generasi sekarang dalam karya-karya yang mereka wariskan. Dalam tulisan ini, kita akan menelisik lebih dekat bagaimana gambaran semangat dan kerja keras yang dulu dikerahkan oleh para ulama dalam menekuni ilmu, baik ketika berguru, ketika mempelajari ilmu, maupun ketika menyebarkan ilmu dengan cara mengajarkannya dan menulis karya-karya.

Kiprah Luar Biasa dalam Usaha Berguru

Guru adalah tokoh utama yang bertugas mendidik pribadi seorang pelajar dan mengisi alam fikirannya dengan materi-materi ilmu. Guru pulalah figur penting yang berkompeten untuk mengawal dan mengarahkan sang pelajar agar tidak terjebak pada kesulitan-kesulitan buntu dan tidak salah memahami apa yang ia pelajari. Oleh karena itulah, kegiatan berguru (mendalami ilmu di tangan seorang guru) merupakan kegiatan pertama yang dikejar oleh para ulama besar di masa-masa awal mereka menpelajari ilmu. Mereka mengerahkan usaha keras dan mengorbankan banyak hal untuk bisa pergi menuntut ilmu dari guru-guru hebat di zaman mereka dan belajar serius berapapun lamanya.

Tradisi ini sudah berlangsung semenjak zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam, khususnya ketika beliau telah bermukim di Madinah. Para shahabat, semisal Umar ibnul Khaththab Radhiyallahu’anhu yang rumahnya agak jauh dari kediaman Rasul, bergiliran dengan tetangganya untuk datang setiap hari belajar ke beliau agar tidak aga ilmu penting yang terlewatkan olehnya. Kaum muslimin yang berada di luar Madinah juga kerap secara khusus berangkat jauh-jauh ke Madinah untuk menimba ilmu dari Rasul atau bahkan hanya bertanya mengenai suatu persoalan. Ketika mendapatkan kabar bahwa istrinya ternyata saudara sesusuan, shahabat `Uqbah ibnul Harits Radhiyallahu’anhu yang tinggal di Makkah segera memacu kendaraannya dalam perjalanan sekitar 10 hari menuju Madinah guna menanyakan hukumnya kepada Rasul yang kemudian menjelaskan tidak sahnya pernikahan tersebut sehingga ia harus bercerai.

Demikianlah semangat generasi pertama umat Islam dalam berguru dan memburu ilmu. Mereka begitu fokus dengan tujuan menuntut ilmu dan tidak peduli seberat apapun rintangannya dan sebesar apapun harta serta tenaga yang harus dikerahkan untuk itu. Sepeninggal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam, shahabat Abu Ayyub Al-Anshari Radhiyallahu’anhu bahkan tanpa ragu berangkat jauh-jauh ke Mesir dari Madinah hanya untuk sekadar menemui `Uqbah bin `Amir Radhiyallahu’anhu dan memastikan sebuah hadits mengenai Akhlaq yang pernah mereka berdua dengar dari Rasul, padahal ketika itu jarak Madinah-Mesir tidak bisa ditempuh dalam waktu kurang dari sebulan. Begitu mendengar jawaban `Uqbah, Abu Ayyub pun langsung bergegas pulang ke Madinah tanpa memperhatikan hadiah pemberian `Uqbah yang baru berhasil disusulkan ketika Abu Ayyub sudah berada di perbatasan Palestina.

Semangat membaja ini terus diwarisi oleh para ulama setelah Shahabat. Mereka rela menempuh perjalanan jauh berhari-hari hanya untuk meneliti sebuah hadits atau materi ilmu. Misalnya Imam Syu`bah ibnul Hajjaj yang tinggal di Bashrah. Ia pernah mendengar sebuah hadits tentang keutamaan wudhu yang konon diriwayatkan oleh `Abdullah bin `Atha’ dari `Uqbah bin `Amir. Tanpa ragu, ia pun bersemangat menelusuri hadits tersebut dengan pergi langsung menemui `Abdullah bin `Atha’ yang tinggal di Makkah. Ternyata, `Abdullah menjawab bahwa ia tidak mendengar hadits tersebut langsung dari `Uqbah, tetapi melalui Sa`d bin Ibrahim yang tinggal di Madinah.

Imam Syu`bah pun berangkat ke Madinah dan langsung menemui Sa`d bin Ibrahim. Ternyata, Sa`d menjawab bahwa ia menerima hadits tersebut dari orang Bashrah, tetangga Imam Syu`bah sendiri, yaitu Ziyad bin Mikhraq. Ia pun bergegas kembali pulang ke Bashrah dan langsung menemui Ziyad meskipun fisiknya sudah letih dan pakaiannya telah kusam. Dan, ternyata Ziyad menjawab bahwa ia mendengar hadits tersebut dari Syahr bin Hausyab yang tinggal di Damaskus yang mengaku menerima hadits tersebut dari shahabat bernama Abu Raihanah yang tinggal di Palestina, bukan `Uqbah bin `Amir yang tinggal di Mesir!

Semangat membaja para ulama juga nampak pada usaha keras yang mereka kerahkan untuk bisa pergi jauh menemui seorang guru dan fokus belajar kepadanya. Konon di zaman Imam Ahmad bin Hanbal ada seorang pelajar bernama Baqqi bin Makhlad yang kala itu tinggal di Andalusia (Spanyol) yang bekerja keras guna meraih nafkah untuk melakukan perjalanan berbulan-bulan ke Baghdad (di Irak) tempat Imam Ahmad bermukim. Karena nafkah yang ia raih hanya cukup untuk perjalanan beberapa mil, ia pun mencari pekerjaan lagi di tempat ia berhenti dan menggunakan hasilnya untuk melanjutkan perjalanan. Demikianlah seterusnya sampai ia berhasil tiba di kota Baghdad. Dan, ternyata ketika itu Imam Ahmad tidak berada di tempat karena sedang disiksa dan dipenjara oleh rezim Khilafah. Ia pun menyamar sebagai pengemis agar bisa setiap hari masuk ke kawasan penjara dan menemui Imam Ahmad serta mencuri kesempatan untuk mendengarkan satu buah hadits. Demikianlah seterusnya sampai ia berhasil menghimpun belasan jilid hadits!

Ada pula seorang pelajar Andalusia lainnya bernama Yahya bin Yahya yang merantau ke Madinah untuk berguru pada Imam Malik bin Anas. Suatu saat, ketika Imam Malik tengah mengajar, seekor gajah lewat di jalan. Murid-murid pun dipersilakan melihat gajah tersebut. Tetapi Yahya tetap diam di tempatnya. Imam Malik bertanya, “Mengapa engkau tidak ikut keluar untuk melihat gajah? Bukankah binatang itu langka dan tidak ada di kampungmu?” Yahya menjawab tegas, “Betul, tetapi saya datang ke sini bukan untuk melihat gajah. Saya datang untuk bertemu dan berguru kepada Anda!”

Kiprah Luar Biasa dalam Mempelajari Ilmu

Sebagaimana semangat mencari guru, para ulama memiliki semangat yang amat besar dalam mempelajari ilmu. Bagi mereka, ilmu adalah harta yang paling berharga yang merupakan kunci keshalehan amal dan kejayaan di Akhirat. Oleh karenanya, mereka mengerahkan semangat kuat dan usaha keras demi ketekunan dalam mereguk ilmu dan menuntaskan persoalan-persoalan keilmuan. Ini nampak jelas dalam kiprah luar biasa mereka saat mempelajari buku-buku, saat menghafalkan materi ilmu, saat serius meneliti sebuah permasalahan, dan saat mereka lebih mengutamakan penyerapan ilmu daripada kepentingan-kepentingan lainnya yang bagi banyak orang sangatlah mendesak.

Dalam mempelajari buku, ada ulama-ulama aktif semisal Imam An-Nawawi yang dalam sehari mengikuti 12 tatap muka untuk mempelajari berbagai buku di bawah pengawasan para gurunya, meliputi buku Fiqih, Hadits, Nahwu, Sharaf, Lughah, Ushul Fiqih, Ilmu Rijal, dan Aqidah. Ada pula Imam Al-Fairuz Abadi, penulis buku Al-Qamus, yang tuntas membaca buku Shahih Muslim hanya dalam tempo 3 hari, padahal buku tersebut memuat lebih dari 5.300 hadits.

Ada juga Imam Al-Khathib Al-Baghdadi, penulis buku Tarikh Baghdad, yang tuntas membaca Shahih Bukhari (memuat lebih dari 7 ribu lebih hadits) di hadapan gurunya yang tunanetra, Isma`il bin Ahmad An-Naisaburi hanya dalam tiga kali pertemuan: dua pertemuan pertama berlangsung antara Maghrib sampai Shubuh dan pertemuan terakhir berlangsung dari tengah siang sampai Shubuh. Bahkan, ada Imam Ibnu Hajar Al-`Asqalani (murid Imam Al-Fairuz Abadi dan penulis buku monumental, Fathul Bari syarah Shahih Al-Bukhari) yang dengan semangat membajanya tuntas membaca Shahih Al-Bukhari hanya dalam tempo 40 jam pasir, tuntas membaca Shahih Muslim hanya dalam 4 kali pertemuan yang berlangsung sekitar dua hari, dan bahkan tuntas membaca Al-Mu`jam Ash-Shaghir karya Imam Ath-Thabrani yang setebal 500-an halaman hanya dalam satu kali duduk antara shalat Zhuhur dan Ashar!

Di samping semangat kuat menuntaskan bacaan buku, para ulama pun memiliki semangat kuat untuk mengulang-ulang pembacaan sebuah buku dan menghafalkan materi ilmu. Ini semisal Imam Al-Muzani yang mengulang-ulang bacaannya terhadap buku Ar-Risalah karya gurunya (Imam Asy-Syafi`i) sampai 50 kali dan semisal ahli Fiqih Baghdad, Abdullah bin Muhammad, yang mengulang-ulang bacaannya terhadap buku Al-Mughni karya Ibnu Qudamah sampai 23 kali, padahal buku tersebut tebalnya sekitar 1 meter!

Adapun mengenai semangat kuat dalam menghafal, ini bukanlah hal yang asing lagi di dunia keilmuan umat Islam, khususnya di kalangan penghafal qira’at Al-Quran, penghafal sejarah, penghafal syair, dan penghafal hadits. Ada Imam Abu Ya`qub Al-Anbari yang hafal sekitar 50 ribu riwayat hadits; ada Imam Ishaq bin Rahuyah dan Muhammad bin `Amirah yang hafal sekitar 70 ribu riwayat hadits. Kita bahkan mengenal Imam Al-Bukhari yang hafal sekitar 300 ribu riwayat hadits yang didengarnya secara langsung, sepertiganya shahih dan sisanya tidak. Bahkan, kita pun mengenal Imam Ahmad bin Hanbal yang sanggup menghafalkan sekitar 1 juta riwayat hadits sebagaimana telah dibuktikan oleh Imam Abu Zur`ah Ar-Razi, rekan seperguruannya.

Semangat dan kiprah luar biasa para ulama dalam mempelajari buku dan menghafalkan materi ilmu ini tentunya menghasilkan pula semangat dan kiprah yang luar biasa mereka dalam kegiatan serius menyelami ilmu dan mempelajari persoalan-persoalan keilmuan secara mendalam. Contohnya bisa kita rasakan ketika Imam Al-Hirr bin `Abdirrahman selama 40-an tahun terus-menerus mempelajari I`rab Al-Quran dan Imam Ibrahim Al-Harbi selama 50-an tahun terus-menerus fokus mendalami Nahwu.

Contoh keseriusan pendalami persoalan keilmuan juga kentara kita rasakan ketika Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah yang punya daya hafal fantastis itu tetap turun tangan menelusuri lebih dari 100 buku tafsir klasik guna memutuskan satu buah statemen aqidah mengenai sifat Allah Ta’ala serta ketika Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-`Asqalani perlu bekerja keras menelaah 100-an buku hadits langka guna sekadar menghimpun aneka riwayat untuk satu buah hadits, yakni hadits “Innama-l a`mâl bi-n niyyât”. Dan, untuk sekadar ingin menuntaskan sebuah paket persoalan dalam ilmu Nahwu, Khalaf bin Hisyam rela membelanjakan uang sebesar 8.000 dirham yang senilai hampir 24 kilogram perak murni.

Akhirnya, kita temukan bagaimana nilai ilmu itu begitu berharganya di mata para ulama. Beberapa ulama, semisal Khalil Al-Farahidi sang penemu Ilmu `Arudh, terkenal paling benci dengan datangnya waktu makan yang membuatnya terpaksa berhenti membaca atau menulis. Beberapa ulama, semisal Imam An-Nawawi, bahkan lupa untuk memikirkan menikah sampai menjelang wafat. Beberapa ulama lainnya bahkan tiada henti untuk tetap terus belajar atau mendiskusikan permasalan ilmu kala sakaratul maut hendak menjemput mereka. Imam Ath-Thabari, misalnya, masih bersikeras meminta kertas untuk menuliskan suatu riwayat doa yang baru ia dengar kala ia telah terbaring sakit menjelang wafat. Pakar Nahwu bernama Ibnu Malik juga tetap bersemangat menghafalkan 8 bait syair yang baru ia dengar saat maut sudah hampir menjemputnya.

Ada juga Abur Raihan Al-Biruni, yang kala itu hampir berusia 80 tahun, yang tetap bersikeras meminta muridnya mengingatkan ia soal hukum waris nenek dan mengatakan bahwa meninggal setelah mengetahui hukum itu jauh lebih baik daripada meninggal tanpa mengetahuinya. Dan, ada pula Imam Abu Yusuf, murid senior Imam Abu Hanifah, yang ketika sakit keras tetap mengajak muridnya Ibrahim ibnul Jarrah untuk berdiskusi mengenai apakah sebaiknya pelontar jumrah itu berjalan kaki ataukah mengendarai kendaraan. Begitu selesai berdiskusi dan Ibrahim telah keluar rumah, terdengarlah jeritan tangis pertanda wafatnya Abu Yusuf.

Kiprah Luar Biasa dalam Menyebarkan Ilmu

Ketika seseorang telah mencapai kematangan mental dan pribadi serta telah melanglang buana menekuni kegiatan berguru, belajar, dan mendalami ilmu pengetahuan, tugas lanjutan yang menantinya adalah tugas menyebarkan ilmu dan pengalaman yang telah ia raih tersebut. Jika di atas kita telah menyaksikan bagaimana getol para ulama itu dulunya menuntut ilmu dan menyerap wawasan, lembaran sejarah pun telah menyuguhkan kepada kita gambaran-gambaran kongkret bagaimana para tokoh besar itu juga memiliki semangat membaja dan kiprah yang luar biasa dalam menyebarkan ilmu mereka, baik melalui pengajaran-pengajaran langsung maupun penulisannya dalam lembaran-lembaran karya. Kiprah penyebaran ilmu ini pun sejalan dengan kematangan mereka yang rata-rata telah tercapai di usia yang masih dini.

Imam Asy-Syafi`i, misalnya, setelah sekian tahun berguru dalam aneka ilmu di Makkah dan Madinah, di usia 15 tahun ia mulai berfatwa dan selanjutnya mulai menulis berbagai buku penting sekaligus mencetuskan sistematisasi Ushul Fiqih yang mencakup dasar-dasar Ilmu Hadits dan Kaidah Tafsir. Setibanya di Mesir, ia langsung diserbu oleh para penuntut ilmu yang bersikeras ingin berguru. Asy-Syafi`i pun membuka halaqah ilmu setiap hari: pengajaran Tafsir selepas Shubuh, pengajaran Hadits selepas terbitnya matahari, forum diskusi selepas Dhuha, serta pengajaran Lughah dan Syair sampai menjelang Zhuhur. Selama 4 tahun mendiami Mesir, Asy-Syafi`i seperti diceritakan muridnya, Ar-Rabi`, telah mendiktekan lebih dari seribu lembar materi-materi keilmuan.

Demikian pula Imam Ath-Thabari, pakar Tafsir dan Sejarah ini getol mengajarkan ilmu dan aktif menulis selama 40 tahun. Ia biasa menulis karya selepas Zhuhur dan mengajar setelah waktu Ashar sampai malam. Rata-rata, Ath-Thabari menulis karya ilmu pada 40 sampai 60 lembar dalam sehari. Ini berarti dalam hidupnya ia telah menghasilkan karya sekitar setengah juta lembar! Tidaklah heran jika ketika ingin mulai mendiktekan buku Tafsirnya, Ath-Thabari berkata kepada para murid, “Siapkan 30 ribu lembar kertas!” Mereka pun mengeluh tidak akan sanggup menuntaskannya. Akhirnya Ath-Thabari memberikan keringangan, “Baiklah, siapkan saja 3 ribu lembar. Kadar semangat kalian betul-betul telah mati!” Bayangkan, jumlah 3.000 lembar (sama dengan 6.000 halaman) untuk satu judul karya ilmu bagi ulama besar semisal Ath-Thabari ini ternyata hanyalah ringkasan saja dari jumlah sepuluh kali lipat lembaran karya semula yang ingin ia diktekan.

Contoh lainnya bisa kita lihat pada Ibnul Jauzi, da`i dan ulama yang memiliki lebih dari seribu karya ini mengaku telah menulis dengan dua jemarinya sekitar 2 ribu jilid karya, telah menyadarkan 100 ribu berandalan, dan telah mengislamkan 20 ribu orang kafir! Sebelum itu, ada pula Ibnu `Aqil Al-Hanbali; ulama Irak yang tekun menuntut ilmu dan menyebarkannya semenjak muda ini terkenal sebagai penulis utuh buku terbesar yang pernah dikenal dalam sejarah, berjudul Al-Funun, yang ukurannya lebih dari 400 jilid! Buku tersebut memuat hasil-hasil pemikirannya dalam berbagai bidang mulai Tafsir, Fiqih, Ushul Fiqih, Aqidah, Nahwu, Lughah, Syair, Sejarah, sampai Akhlaq serta beberapa rekaman diskusi dan hasil perenungan-perenungannya. Uniknya, Ibnu `Aqil konon katanya menutup buku megabesar itu dengan mengatakan, “Inilah buku ringkasan untuk sang penuntut ilmu!”

Contoh-contoh nyata dalam sejarah ini sekilas tampak seolah sebuah dongeng. Tetapi bila kita mengetahui bagaimana para ulama brilian itu bekerja, akan jelas bagi kita bahwa karya-karya yang fantastis tersebut bukanlah sebuah angan-angan. Mereka terkenal tak pernah menyia-nyiakan detik-detik penting hidup mereka, semuanya penuh oleh aktivitas membaca, berpikir, menulis, berdiskusi, mengajar, beribadah, atau berjihad di medan perang. Kecakapan dan kemampuan mereka dalam mengerjakan tugas-tugas berat itu sangat-sangat fantastis.

Dalam kemampuan menulis, misalnya, Ibnu Taimiyyah dikenal kerap menuliskan tuntas karya-karyanya secara spontan hanya dalam sekali duduk. Bahkan, seperti diceritakan oleh muridnya, Ibnul Qayyim, apa yang ditulis oleh Ibnu Taimiyyah hanya dalam satu hari butuh waktu satu minggu untuk bisa disalin ulang oleh orang biasa. Tidaklah heran bila akhirnya karya-karya tokoh yang hebat ini mencapai ribuan jilid, padahal isi karya-karya bukanlah hal-hal sederhana, melainkan analisis-analisis mendalam pada berbagai persoalan rumit seputar Aqidah, Logika, Fiqih, Ushul Fiqih, dan berbagai disiplin keilmuan lainnya. Dalam karya-karyanya itu pun, Ibnu Taimiyyah sanggup mengutip ribuan perkataan para ulama dari ratusan buku yang telah ia baca secara akurat langsung dari memori hafalannya, terutama ketika ia dipenjara dan dijauhkan dari koleksi-koleksi pustaka. Tidaklah mengherankan jika kemudian untuk mentahkik (meneliti dan menerbitkan cermat) salah satu karyanya saja, yang berjudul Bayan Talbisi-l Jahmiyyah, Universitas Imam Riyadh perlu mengerahkan delapan orang doktor sekaligus yang ternyata baru tuntas mengerjakan tugas itu dalam waktu lebih dari 40 tahun!

Inilah sekelumit singkat gambaran nyata bagaimana para manusia-manusia unggul yang mengabdikan dirinya untuk ilmu dan agama Allah itu berdedikasi penuh dalam belajar, meneliti, dan berkarya. Semangat dan kiprah mereka betul-betul luar biasa. Merekalah pewaris para nabi yang jasa dan sumbangsihnya terhadap umat ini begitu besar serta sudah sepatutnya kita teladani, kita manfaatkan, dan kita lanjutkan.

*****

* Tinggal di Mesir dan Belajar di Al-Azhar. Meriwayatkan dengan ijazah dari banyak Masyaikh diantaranya : Syaikh Prof. Dr. Rif’at Fauzi Abdul Muthalib, Syaikh Dhahirruddin al-Mubarakfuri, dan lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *